Pada usaha-usaha yang telah ku lakukan untuk merebut Kembali hatimu dari kesibukanmu menunggu dia datang menghampirimu. Aku selalu kalah perihal mengambil perhatianmu dari pandanganmu padanya. Mungkin usahaku tak cukup meyakinkanmu bahawa waktu yang selalu kuberikan hanya untukmu. Mungkin aku tidak cukup membuatmu yakin bahwa kau memang satu-satunya bukan bagian dari salah-satunya. Mungkin dari caraku tak cukup membuatmu merasa berharga dari apa yang telah ku berikan padamu, waktuku, perhatianku, kasih sayangku, hal-hal kecil yang kau inginkan tak cukup membuatmu yakin kau berharga bagiku. Aku selalu kalah perihal mengambil hatimu, ya selalu kalah dari dia yang mampu memberikan semua waktunya untukmu. Sedangkan aku hanya Sebagian waktuku untukmu selebihnya untuk diriku sendiri. Kau memang tak pernah merasa cukup dari apa yang telah ku berikan, padahal kau tahu persis waktu bagiku lebih berharga dari apapun. Kau menjadi satu-satunya dan kau tak pernah ingin...
Ini aku anak sulungnya ayah yang sudah berkali-kali dibantai semesta namun masih bisa tegap berdiri. aku butuh bahumu yang tegap setiap kali terjatuh, namun yang kulihat hanya bahu ibu; di matamu. dari setiap kegagalanku aku butuh pahlawan untuk sekadar menepuk pundakku, namun aku hanya bisa merasakan pelukan hangat dari tubuh ibu. aku selalu bertanya, ayah kenapa? ayah jalanmu sudah terlalu jauh dari ibu, pundaknya butuh diringankan bebannya agar tak ketinggalan. tubuhmu selalu ada disampingnya, namun jiwamu entah kenamana. ayah anak sulungmu butuh sosok yang menjadi penguatnya dikala badai menghadang. namun ia hanya dapat berteduh di bawah payung ibu. anak sulungmu butuh sosok yang paling kuat selain kuatnya hati ibu. Ayah, ketika aku dihantam badai, aku hanya melihat pundak ibu; aku juga ingin melihat pundakmu. Ayah, kakiku memang masih kuat berjalan sendirian, namun aku bohong jika hatiku kuat menahan rindu. hatiku rapuh bila melihat ibu di depan pintu dengan tangan kanan ibu yang ...